PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM
PEMBELAJARAN IJTIMA'I (PENGETAHUAN SOSIAL)
A. PENDAHULUAN
Kesejahteraan bangsa tidak hanya bersumber pada sumber daya dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, sosial dan kepercayaan (kredibilitas). Dengan demikian, tuntutan untuk terus menerus memutakhirkan pengetahuan sosial (ijtima'i) menjadi suatu keharusan. Pengembangan kurikulum pengetahuan sosial (ijtima'i) merespon secara positif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntuta otonomi. Hal ini dilakukan untuk mreningkatkan relevansi program pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Kompetensi pengetahuan sosial (ijtima'i)menjamin pertumbuhan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Esa, penguasaan kecakapan hidup, penguasaan prinsip-prinsip sosial, ekonomi, budaya dan kewarganegaraan sehingga tumbuh generasi yang kuat, taat, beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.
Pembelajaran itu seharusnya merupakan suatu kegiatan yang disenangi, menantang dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan belajar mengajar mengandung arti interaksi dari berbagi komponen, seperti guru, murid, bahan ajar dan sarana lain yang digunakan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Selanjutnya Lubis menyatakan bahwa "Kegiatan belajar mengajar (KBM) merupakan kegiatan interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan sumber belajar lainnya dalam satu kesatuan waktu dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan". (Lubis, 2004)
Demikian juga Suryosubroto menyatakan bahwa "Kemampuan mengolah proses belajar mengajar adalah kesanggupan atau kecakapan para guru dalam menciptakan suasana komunikasi yang edukatif antara guru dan peserta didik yang mencakup segi kognitif, afektif, dan psikomotorik, sebagai upaya mempelajari sesuatu berdasarkan perencanaan sampai dengan tahap evaluasi dan tindak lanjut hingga tercapai tujuan pengajaran". (Suryosubroto, 1997)
Dari uraian di atas dapat diasumsikan bahwa mata pelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) mempunyai nilai yang strategis dan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, handal, dan bermoral semenjak usia dini. Hal yang menjadi hambatan selama ini dalam pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) adalah disebabkan kurang dikemasnya pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) dengan metode yang menarik, menantang, dan menyenangkan. Para guru sering kali menyampaikan materi pengetahuan sosial (ijtima'i) apa adanya (konvensional), sehingga pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) cenderung membosankan dan kurang menarik minat para siswa yang pada gilirannya prestasi belajar siswa kurang memuaskan. Disisi lain juga ada kecenderungan bahwa aktivitas siswa dalam pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) masih rendah. Setidaknya ada tiga indikator yang menunjukkanhal ini. Pertama, siswa kurang memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain. Kedua, siswa kurang memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan sendiri. Dan ketiga, siswa belum terbiasa bersaing menyampaikan pendapat denan teman yang lain.
Pembelajaran mata pelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) sering dianggap sebagai suatu kegiatan yang membosankan, kurang menantang, tidak bermakna serta kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak kritikkan yang ditujukan kepada guru-guru yang mengjarkan pengetahuan sosial (ijtima'i), antara lain rendahnya daya kreasi guru dan siswa dalam pembelajaran, kurang dkuasainya materi-materi pengetahuan sosial (ijtima'i) oleh siswa, dan kurangnya variasi dalam pembelajaran.
Meningkatkannya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran akan membuat pelejaran lebih bermakna dan berarti dalam kehidupan anak. Dikatakan demikian, karena 1). Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun dan mebuat perencanaan proses belajar mengajar, 2). Adanya keterlibatan intelektual emosional siswa melalui dorongan dan semangat yang dimilikinya, 3). Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam mendengarkan dan memperhatikan apa yang akan disajikan oleh guru.
Agar pembelajararan pengetahuan sosial (ijtima'i) menjadi pembelajaran yang aktif, inovatid, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM), dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satu cara yang cukup efektif adalah melalui pendekatan kontekstual. Oleh karena itu perlu dikaji tentang penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran, terutama sekali dalam pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i), untuk membuktikan bahwa melalui penerapan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i).
Memperhatikan situasi di atas, kondisi yang ada saat ini adalah bahwa pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) masih berjalan monoton, belum ditemukan strategi pembelajaran yang tepat, belum adanya kolaborasi antara guru dan siswa, metode yang digunakan bersifat konvensional, rendahnya kualitas pmbelajaran, serta rendahnya prestasi belajar siswa untuk mata pelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i).
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah pemakalah kemukakan di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran agar dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam mata pelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i).
2. Apakah penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa dalam pembelajaran mata pelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i).
B. PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN PENGETAHUAN SOSIAL
1. Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran
Pembelajaran dan pengajaran pendekatan kontekstual (CTL) adalah salah satu topik hangat dalam dunia pendidikan saat ini. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual, sebagai sistem mengajar, didasarkan pada pemikiran bahwa makna muncul dari hubungan antara isi dan konteksnya. (Elaine B. Johnson, 2007: 34-35) Dalam suatu pembelajaran, pendekatan memang bukan segala-galanya. Masih banyak faktor lain yang ikut menentukan keberhasilan suatu pembelajaran. Faktor-faktor tersebut antara lain kurikulum yang menjadi acuan dasarnya, program pengajaran, kualitas guru, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, sumber belajar dan teknik atau bentuk penilaian.
Sesuai dengan faktor kebutuhan individual siswa, maka untuk dapat mengimplementasikan pembelajaran dan pengajaran kontekstual guru seharusnya; merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental siswa, membentuk group belajar yang saling tergantung, menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri dengan 3 karakteristik umumnya (kesadaran berpikir, penggunaan strategi dan motivasi berkelanjutan).(Bambang Sudibyo, 2007: 218)
Pada dasarnya konsep pembelajaran kontekstual bukan merupakan suatu konsep baru. Penerapan pembelajaran kontekstual dikelas-kelas Amerika Serikat pertama-tama diusulkan oleh John Dewey. Pada tahun 1916, John Dewey mengusulkan suatu kurikulum dan metodologi pengajaran yang dikaitkan dengan minat dan pengalaman siswa. (Nurhadi, 2002: 27) Latar belakang adanya keinginan untuk menerapkan pendekatan kontekstual adalah kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah.
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Melalui strategi pembelajaran kontekstual (CTL), siswa diharapkan belajar melalui proses “mengalami” bukan hanya “menghafal”. (Nurhadi, 2002: 2) Disamping itu, kesadaran perlunya pendekatan kontekstual dalam pembelajaran didasarkan adanya kenyataan bahwa sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Hal ini karena pemahaman konsep akademik yang mereka peroleh hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak, belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan mereka, baik dilingkungan kerja maupun masyarakat. Pembelajaran yang selama ini mereka terima hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak, belum menyentuh kebutuhan.
Yang menjadi landasan filosofi bagi kontekstual adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghapal. Siswa hanya mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri. Bahwa pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta- fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Konstruktivisme berakal pada filsafah pragmatisme yang digagas oleh John Dewey pada abad 20 yang lalu.( (Nurhadi, 2002: 26)
Pendekatan Kontekstual (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. (Wina Sanjaya: 2008: 253)
Selanjutnya Nurhadi merumuskan pengertian pendekatan Kontekstual (CTL) sebagai berikut:
Pendekatan Contekstual (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung ilmiah dalam bentuk kegitan siswa bekerja dan mengalami, bukan tranfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil. (Nurhadi, 2002: 20)
Dari konsep tersebut diatas ada tiga hal yang harus di pahami: Pertama pendekatan kontektual (CTL) sebuah sistem belajar berdasarkan filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran, artinya pembelajaran dan pengajaran kontekstual, sebagai sebuah sistem mengajar, didasarkan pada pemikiran bahwa makna muncul dari hubungan antara isi dan konteksnya. Ketika siswa melihat makna dalam tugas-tugas yang harus mereka kerjakan, mereka dapat menyerap pelajaran dan mengingatnya.
Kedua pendekatan kontekstual (CTL) menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima dan mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan, artinya kontekstual (CTL) juga mampu memuaskan kebutuhan otak untuk mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang ada, yang merangsang pembentuk struktur fisik otak dalam rangka merespon lingkungan. Akan tetapi dengan mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan siswa dapat menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima.
Ketiga pendekatan kontekstual (CTL) menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah siswa dapat mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya, artinya pembelajaran dan pengajaran kontekstual melibatkan para siswa dalam aktivitas penting yang membantu mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka hadapi. Akan tetapi dengan mengaitkan keduanya, para siswa melihat makna di dalam tugas sekolah dan dapat menangkap makna tersebut. Sehingga pengetahuan yang meraka dapat bisa dikaitkan dengan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.
Pendekatan kontekstual (CTL) memadukan gagasan dan tindakan, mengetahui dan melakukan, mengatahui dan melakukan, berpikir dan bertindak. Pendekatan kontekstual (CTL) adalah sebuah sistem yang merangsang otak untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna. Pendekatan kontekstual (CTL) adalah suatu sistem pengajaran yang cocok dengan otak yang menghasilkan makna dengan menghubungkan muatan akademik dengan konteks dari kehidupan sehari-hari siswa.
Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan terbentuk karena peran aktif subjek, maka dipandang dari sudut psikologis, pendekatan konstektual (CTL) berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respons. Belajar tidak sesederhana itu. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau pengalaman. Dari asumsi serta latar belakang yang mendasarinya, maka terdapat beberapa hal yang harus dipahami tentang belajar dalam kontekstual (CTL) yaitu:
1) Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.
2) Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari prngetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
3) Pengetahuan tidak dapat dipisah- pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan.
4) Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide.
5) Proses belajar dapat mengubah struktrur otak. Perubahan struktrur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan ketrampilan seseorang untuk itu perlu dipahami, strategi belajar yang salah dan terus-menerus dipajangkan akan mempengaruhi struktrur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berprilaku.( (Nurhadi, 2002: 3-4)
Pembelajaran dan pengajaran kontekstual berhasil terutama karena sasaran utamanya adalah untuk mencari makna dengan menghubungkan pekerjaan akademik dengan kehidupan keseharian dan beragam elemennya sesuai dengan tiga prinsip di atas.
Pembelajaran kontekstual (CTL), terdapat prinsip saling bergantungan mengajak para pendidik untuk mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik yang lainnya, dengan siswa-siswi, dengan masyarakat dan alam sekitarnya. Prinsip itu mendesak bahwa sekolah adalah sebuah sistem kehidupan dan bahwa bagian-bagian dari sistem itu adalah para siswa, guru, tukang sapu, pegawai administrasi, orang tua dan teman-teman masyarakat berada di dalam sebuah jaringan hubungan yang menciptakan lingkungan belajar.( Elaine B. Johnson, 2007: 72-73)
Komponen pembelajaran dan pengajaran kontekstual yang mencakup pembelajaran praktik aktif dan langsung misalnya, terus menerus menantang para siswa untuk mencipta. Para siswa berpikir kreatif ketika mereka menggunakan pengetahuan akademik untuk meningkatkan kerja sama dengan anggota kelas mereka, ketika mereka merumuskan langkah-langkah untuk menyelesaikan sebuah tugas sekolah, atau mengumpulkan dan menilai informasi mengenai suatu masalah masyarakat. Pembelajaran aktif yang berpusat pada siswa juga ikut mendukung ajakan prinsip diferensiasi untuk menuju keunikan. Hal itu membebaskan para siswa untuk menjelajahi bakat pribadi mereka, memunculkan cara belajar mereka sendiri dan berkembang dengan langkah mereka sendiri. (Elaine B. Johnson, 2007: 78)
Prinsip pengaturan diri di dalam pembelajaran kontekstual (CTL) ini meminta para pendidik untuk mendorong setiap siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya. Untuk menyesuaikan dengan prinsip ini, sasaran utama pendekatan kontekstual (CTL) adalah menolong para siswa mencapai keunggulan akademik, memperoleh ketrampilan karier dan mengembangkan karakter dengan cara menghubungkan tugas sekolah dengan pengalaman serta pengetahuan pribadinya.(Elaine B. Johnson, 2007: 82)
Wina Sanjaya membagi 5 (lima) karakteristik yang terpenting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual (CTL), yaitu:
1) Dalam pendekatan kontekstual (CTL), pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activiting knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan sau sama lain.
2) Pembelajaran yang kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran di mulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memerhatikan detailnya.
3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4) Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa,sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi. (Wina Sanjaya: 2008: 254)
Kelebihan dari pendekatan kontekstual (CTL) adalah suatu sistem belajar yang mengeluarkan potensi penuh seorang siswa secara ilmiah. Untuk lebih rincinya akan disebutkan satu-persatu antara lain:
1) Siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sama.
2) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
3) Sifat ingin tahu siswa akan berkembang dengan cara bertanya
4) Siswa akan berpikir kritis dan kreatif untuk mengaitkan informasi baru dengan pengalaman yang telah dimilikinya. (Nurhadi, 2002: 10-20)
2. Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial (Ijtima'i)
Menurut bahwa secara garis besar penerapan pendekatan kontekstual dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1). Mengembangkan metode beajar mandiri, 2). Melaksanakan penemuan (inquiry), 3). Menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, 4). Menciptakan masyarakat belajar, 5). Hadirkan "model" dalam pembelajaran, 6). Lakukan refleksi di setiap akhir pertemuan, 7). Lakukan penilaian yang sebenarnya.( Suparto, 2004: 6)
Pembelajaran kontekstual merupakan bagian dari kerangka pendidikan yang dapat digunakan untuk membantu siswa membuat pembelajaran yang tepat bagi siswa dengan cara mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak itu hidup serta budaya yang berlaku dalam masyarakat.
Jadi penyajian pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap yang ada dalam silabus pengetahuan sosial (Ijtima'i) dilakukan dalam keterkaitan apa yang dipelajari dalam kelas dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan memilih konteks secara hati-hati siswa secara perlahan-lahan digerakkan pemikirannya agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan kelas saja, tetapi mengkaitkan aspek-aspek pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) itu dengan kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka dan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Pengalaman belajar siswa tidak dikotak-kotakkan dalam silabus yang terpisah-pisah. Karenanya, guru memilih konteks dan merancang pembelajaran yang kondusif untuk belajar yaitu yang terintegrasi (saling berkaitan), interdisipliner (dipandang dari berbagai bidang ilmu), dan mencerminkan situasi kehidupan nyata.
Pembelajaran berbasis kontekstual (CTL) melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran produktif, yakni:
a. Konstruktivisme (Contructivism)
Konstruktivisme (Contructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi). Pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan di bangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyng. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu memberi makna melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiaskan untuk memecahkan masalah,menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak akan mempu memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkontruksi pengetahuan dibenak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikems menjadi proses "mengkontruksi" bukan "menerima" pengetahuan. Dalam prose pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i), siswa membangun sendiri pengetahuan melali keterlibatan aktif dalam prose pembelajaran, siswa menjadi pusat kegiatan, bukan gurunya yang selalu aktif.
Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum obyektivitas, yanglebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivis, "strategi memperoleh pengalaman dan pengetahuan" lebih diutamakan dibandingkan banyaknya pengetahuan yang diperoleh siswa. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan: 1). Menjadikan pengetahaun bermakna dan relevan bagi siswa, 2). Memberikan kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, 3). Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
Pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda. Pengalaman sama bagi beberapa orang masing-masing berisi individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru dihubungkan dengan kotak-kotak (struktur pengetahuan) dalam otak manusia tersebut. Struktur pengetahuan dikembngkan dalam otak manusia melalui dua cara, yaitu asimilasi atau akomodasi. Asimilasi maksudnya struktur pengetahuan baru di buat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi maksudnya struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasikan untuk menampung dan menyesuaikan dengan lahirnya pengalaman baru.
Pada umumnya pendidik merancangkan pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemontrasikan, menciptakan ide dan sebagainya.
b. Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi dari menemukan sendiri. Guru yang mengajar pengetahuan sosial (ijtima'i) harus selalu merancang kegiatan yang menunjuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.
Ada beberapa pendapat tentang langkah-langkah pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) dengan pendekatan inquiri, diantaranya pendapat Joyce, Weil dan Calhoun adalah:
1) Guru menyajikan situasi problematik dan menjelaskanprosedur inquiri kepada siswa.
2) Pengumpulan data dan verifikasi mengenai suatu informasi yang dilihat dan dialami (situasi problematik)
3) Pengumpulan data dan eksprimentasi, para siswa diperkenalkan dengan elemen baru ke dalam situasi yang berbeda
4) Memformulasikan penjelasan
5) Menganalisis proses inkuiri.(Joyce, Bruce, Marsha Weil, & Emily Calhoun, 2000: 179-181)
Pendapat senada juga disampaikan oleh Margono, bahwa langkah-langkah inquiri adalah:
1) Siswa dirangsang oleh guru dengan permasalahan, pernyataan, pertanyaan, permainan, teka-teki, gambar dan sebagainya.
2) Siswa diminta menentukan prosedur mencari dan mengumpulkan informasi yang diperlukan, dapat dilakukan secara individual maupun kelompok.
3) Siswa mencoba merumuskan pemecahan masalah.
4) Siswa menyusun prosedur atau langkah-langkah dalam pemecahan masalah yang dapat dipergunakan untuk pemecahan masalah dalam situasi baru atau masalah yang lain.(Margono, 1989: 53)
c. Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari "bertanya". Sebelum tahu tentang pencemaran, seseorang bertanya "Apa yang dimaksud pencemaran itu?" Questioning (bertanya) merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstua. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertana merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui.
Dalam pembelajaran, bertanya bermanfaat untuk: 1). Menggali informasi, baik administrasi maupun akademis, 2). Mengecek pemahaman siswa, 3). Membangkitkan respon kepada siswa, 4). Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5). Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6). Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7). Untuk membangkitkan lebih banyak pertanyaan yang lain dari siswa, 8). Untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
Semua aktivitas belajar, questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas dan sebagainya. Aktivitas bertanya dalam pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) juga ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, ketika mengamati, dan sebaaginya. Kegiatan-kegiatan itu akan menumbuhkan dorongan untuk bertanya.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Ketika seseorang anak tidak tahu cara menggunakan suatu alat dalampembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i), lantas ia bertanya kepada temannya. "Bagaimana cara menggunakan alat ini? Tolong beritahukan aku!" Lalu temannya yang sudah tahu,menunjukkan cara memakainya alat itu. Dari contoh tersebut anak, dua anak tersebut sudah membentuk masyarakat belajar (learning community).
Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman,antar kelompok, dan antara yang tahu dengan yang belum tahu. Di ruang kelas, orang-orang yang ada di luar kelas, anggota masyarakat belajar. Di kelas guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa di bagi dalam kelompok yang anggotanya heterogen. "Masyarakat belajar" bisa terjadi apabila ada proseskomunikasi dua arah. Dalam masyarakat belajar, dua kelompok (atau lebih) yang terlihat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Seseorang yang terlibat dalam kegiatanmasyarakat beljar, informasi yang diperoleh teman berbicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.
Kegiatan saling belajar dalam pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) bisa terjadi apabila ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada yang merasa segan bertanya, atau hanya mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setia orang lain memeiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang lain bisa menjadisumber belajar, dan ini juga berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. Metode pembelajaran dengan teknik "learning community" sangat membantu proses pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam hal: 1). Pembentukan kelompok kecil, dan pembentukan kelompok besar, 2). Mendatangkan "ahli" ke kelas (tokoh, dokter, petani, tukang, dsb), 3). Bekerja dengan kelas sederajat, 4). Bekerja kelompok dengan kelas diatasnya, 5). Bekerja dengan masyarakat.
e. Permodelan (Modeling)
Pada saat pembelajaran pengetahuan sosial keterampilan atau pengetahuan tertentu berlangsung, sebaiknya ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, atau guru memebri contoh cara mengerjkan sesuatu, dengan demikian guru memberi "model" tentang bagaimana cara belajar.
Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberi contoh mendemonstrasikan keahliannya. Siswa "contoh" tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai "standar" kompetensi yang harus dicapainya, model juga dapat didatangkan dari luar.
f. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan ang baru diterima, dengan demikian siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya. Realisasi dalam pembelajaran berupa: rangkuman tentang apa yang dipelajari, catatan atau jurnal di buku siswa, kesan dan saran tentang pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i).
g. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)
Tes tetap dilaksanakan sebagai salah satu sumber untuk melihat kemajuan belajar siswa, termasuk ujian nasional. Tetapi untuk pengumpulan data kemajuan belajar dalam pendekatan kontekstual tidak hanya menggunakan tes. Nilai siswa yang utam diperoleh dari penampilan siswa sehari-hari ketika belajar. Apakah dia sudah belajar dengan keras? Bagaimana hasil karyanya? Bagaimana cara menyampaikan ide, berdiskusi, mengerjakan tugas-tugas? Bagaimana partisipasinya dalam bekerja kelompok? Bagaimana hasil kerja kelompoknya? Bagaimana buku catatan sekolahnya? Semua itu adalah sumber penilaian yang autentik dan nyata.
Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual, jika telah menerapkan ketujuh komponen kontekstual, yaitu filosofi belajarnya adalah kontruktivisme, selalu ada unsur bertanya, pengetahuan dan pengalaman diperoleh dari kegiatan menemukan, terbentuk masyarakat belajar, ada model yang ditiru (permodelan) dan dilakukan penilaian sebenarnya.
Agar proses pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) dengan menerapkan model kontekstual dapat dilaksanakan dengan baik dalam mencapai tujuan pembelajaran perlu diperhatikan antara lain:
1) Memberikan penjelasan prosedur pembelajaran dengan model kontekstual secara efektif dan sejelas-jelasnya kepada siswa, sehingga proses pembelajaran lebih terarah dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2) Guru hendaknya memiliki kemampuan untuk membantuk mengembangkan kemampuan berpikir verbal dan berpikir abstrak siswa. Membimbing dan mengarahkan siswa untuk belajar mandiri dalam bentuk mengumpulkan data mengenai potensi lingkungan tempat tinggal siswa. Potensi tempat tinggal dapat digunakan sebagai sumber belajar. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara menganlisis data serta pemecahan masalah yang dihadapi sesuai dengan cara berpikir ilmiah.
3) Kondisi lingkungan masyarakat atau sekolah diusahkan dapat digunakan untuk kegiatan belajar siswa secara mandiri dengan mencoba melatih, dan menemukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi sesuai dengan kemampuan siswa, sehingga siswa secara leluasa dan termotivasi untuk belajar lebih mendalam.
4) Disediakan fasilitas pembelajaran yang mendukung dalam proses pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i), misalnya perpustakaan yang memadai (buku-buku pelajaran, alat-alat peraga, majalah, gambar-gambar, buku-buku ilmu pengetahuan populer, media pembelajaran lainnya) yang mendukung proses pembelajaran dengan model konekstual.
5) Guru hendaknya mampu memanfaatkan media pembelajaran yang tersedia untuk membantu menjelaskan materi pembelajaran.
Aplikasi model pendekatan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Guru memilih dan menetapkan permasalahan sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa, kemampuan yang diperlukan yaitu menampung secara terbuka dan berpikir positif terhadap semua pernyataan-pernyataan atau pendapat dari siswa kemudian menyeleksi dan merumuskan kembali pernyataanatau pendapat tersebut sesuai dengan sifat dan kategori masalah yang dilihat dari tingkat kepentingannya, amat penting, bermanfaat, atau biasa dapat dipecahkan.
2) Guru membimbing secara aktif, membantu siswa dalam prosedur pembelajaran, menelaah materi dan permasalahan, kemampuan yang diperlukan adalah pemahaman guru memahami kecakapan dan kejelian siswa dalam belajar baik secara individu maupun kelompok sehingga kebersamaan dalam menganalisis permasalahan dari berbagai sudut pandang.
3) Guru membimbing siswa dalam pengumpulan data di masyarakat, dalam hal ini kemampuan yang diperlukan adalah memilih pendekatan pembelajaran yang tepat.
4) Membantu siswa dalam menyusun dan mengelompokkan konsep pengetahuan sosial dengan cara memberikan kelengkapan prosedur pembelajaran yang jelas dan sistematis.
Pembelajaran dengan menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) merupakan bentuk pembelajaran yang berorientasi pada proses mengamati, menggolong-golongkan membuat dugaan, mengukur dan membuat kesimpulan berdasarkan sumber belajar yang berasal dari masyarakat. Pendekatan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran pengetahuan sosial memberikan kesempatan pada siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir verbal dan abstrak secara aplikatif. Pendekatan kontekstual mengutamakan proses mental yang sepenuhnya melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa dilatih berpikir dan bertindak secara mandiri dalam mencari, menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan masalah.
3. Tentang Perbedaan Prestasi Belajar Pada Pelajaran Ijtima'i Menggunakan Pendekatan Kontekstual dengan Konvensional
Belajar dapat dilakukan oleh siapapun, baik anak-anak, remaja, orang dewasa maupun orang tua dan akan berlangsung seumur hidup. Dalam pendidikan disekolah belajar merupakan kegiatan yang pokok yang harus dilaksanakan. Tujuan pendidikan akan tercapai apabila proses belajar dalam suatu sekolah dapat berlangsung dengan baik, yaitu proses belajar yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Menurut kamus bahasa Indonesia belajar adalah berusaha dan berlatih untuk mendapat ilmu/pengetahuan.(Tri Kurnia Nurhayati, 2003: 131) Sedangkan menurut para ahli psikologi belajar adalah suatu aktivitas yang menuju kearah tujuan tertentu.
Berikut akan dijelaskan pengertian belajar menurut beberapa ahli antara lain:
a. Belajar adalah usaha untuk membentuk hubungan antara perangsang dan reaksi. Pandangan ini dikemukan oleh aliran psikologi yang dipelopori oleh Thordinke aliran koneksinonisme. Menurut ajaran ini orang belajar karena mengahadapi masalah yang harus dipecahkan. Masalah merupakan perangsang atau stimulus terhadap individu. Kemudian individu itu mengadakan reaksi terhadap rangsangan,dan bila reaksi itu berhasil, maka terjadilah hubungan perangsang dan reaksi terjadi pula peristiwa belajar.
b. Belajar adalah usaha untuk menyesuikan diri terhadap kondisi-kondisi atau situasi-situasi disekitar kita. Dalam menyesuaikan diri itu termasuk mendapatkan kecekatan-kecekatan pengertian-pengertian yang baru, dan sikap-sikap yang baru. Pandangan ini pada umumnya dikemukan oleh para pengikut aliran Behaviourisme.
c. Bagi aliran Psycho refleksiologi, belajar dipandangnya sebagai usaha untuk membentuk reflek-reflek baru. Bagi aliran ini belajar adalah perbuatan yang berwujud rentetan dengan gerak reflek itu dapat menimbulkan reflek-reflek buatan.
d. Belajar adalah usaha untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru. Pendapat ini dikemukakan oleh para ahli psikologi assosiasi. Peristiwa belajar dipandangnya sebagai peristiwa untuk menghadapi masalah-masalah berdasarkan tanggapan-tanggapan yang telah ada. Orang mendapatkan hubungan antara tanggapan-tanggapan itu dan hubungan antara tanggapan-tanggapan dengan obyek yang dipecahkan.
e. Belajar adalah suatu proses aktif, yang dimaksud aktif di sini ialah, bukan hanya aktivitas yang nampak seperti gerakan-gerakan badan, akan tetapi juga aktivitas-aktivitas mental, seperti proses berpikir, mengingat dan sebagainya. Pandangan ini pada umumnya dikemukakan oleh para ahli psikologi Gestalt.
f. Belajar adalah usaha untuk mengatasi ketegangan-ketegangan psikologis. Bila orang ingin mencapai tujuan, dan ternyata mendapatkan rintangan, maka hal ini menimbulkan ketegangan. Ketegangan itu baru bisa berkurang bila rintangan itu diatasi, dan usaha mengatasi inilah yang dinamakan belajar. Pendapat ini dikemukakan oleh para pengikut psikologi-dalam atau mereka yang bergerak dalam lapangan psikologi klinis.(Mustaqim. Abdul Wahid, 2003:60-62)
Semua pendapat itu menunjukkan bahwa belajar adalah proses perubahan. Perubahan-perubahan itu tidak hanya perubahan lahir tetapi juga perubahan batin, tidak hanya perubahan tingkah lakunya yang nampak, tetapi dapat juga perubahan-perubahan yang tidak dapat diamati. Perubahan-perubahan itu bukan perubahan yang negatif, tetapi perubahan positif, yaitu perubahan yang menuju ke arah kemajuan atau ke arah perbaikan.
1. Pengertian Prestasi Belajar
Sebelum dijelaskan mengenai prestasi belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang pengertian prestasi. Menurut kamus bahasa Indonesia prestasi diartikan sebagai hasil yang telah di capai, dilakukan, dikerjakan dan sebagainya. (Tri Kurnia Nurhayati, 2003: 546) Jadi prestasi adalah hasil yang telah di capai dan oleh karena itu semua individu dengan adanya belajar hasilnya dapat di capai. Setiap individu menginginkan hasil yang sebaik mungkin. Oleh karena itu setiap individu harus belajar dengan sebaik-baiknya supaya prestasinya berhasil dengan baik.
Prestasi menunjukkan seberapa besar hasil atau kemampuan yang dicapai seseorang dalam usaha yang dilakukannya. Dalam hal ini hasil usaha dapat ditunjukkan dengan nilai yang merupakan hasil-hasil pengukuran yang sesuai dengan tujuan dari suatu usaha. Prestasi belajar merupakan suatu usaha keberhasilan yang dicapai siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah. Sehingga siswa dapat mengukur pemahamannya terhadap pelajaran yang diberikan guru kapadanya setelah proses belajar terjadi.
Maka perbedaan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Ijtima'i bisa dilihat dari pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan, kreativitas siswa yang mengaitkan materi dengan pengalaman nyata siswa itu sendiri dan hasil belajar siswa. sehingga akan terlihat jelas perbedaan prestasi belajar siswa yang menggunakan pendekatan kontkstual (CTL) dari pada menggunakan metode konvesional (Non-CTL) yang selama ini digunakan guru dalam memberikan materi pelajaran di sekolah dengan cara menghafal dan membuat siswa bosan dalam belajar, serta prestasi belajar mereka rendah. Berikut ini akan dijelaskan perbedaan pendekatan kontekstual (CTL) dengan pendekatan konvensional (Non-CTL).
Perbedaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual (CTL) dengan pendekatan konvensional (Non-CTL) antara lain:
a. Pendekatan kontekstual (CTL) menempatkan siswa sebagai subjek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. sedangkan dalam pendekatan konvensional (Non-CTL) siswa ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
b. Dalam pembelajaran pendekatan kontekstual (CTL) siswa belajar melalui kegiatan kelompok, seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi. Sedangkan dalam pendekatan konvensional (Non-CTL) siswa lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi pelajaran.
c. Dalampendekatan kontekstual (CTL) pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil, sedangkan dalam pendekatan konvensional (Non-CTL) pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak.
d. Dalam pendekatan kontekstual (CTL), kemampuan didasarkan atas pengalaman, sedangkan dalam pendekatan konvensional (Non-CTL) kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan.
e. Tujuan akhir dari proses pembelajaran melalui kontekstual (CTL) adalah kepuasan diri, sedangkan dalam pendekatan konvensional (Non-CTL) tujuan akhir adalah nilai atau angka.
f. Dalam pendekatan kontekstual (CTL), tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena ia menyadari bahwa perilaku itu merugikan dan tidak bermanfaat, sedangkan dalam pendekatan konvensional (Non-CTL) tindakan atau perilaku individu didasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman, atau sekedar untuk memperoleh angka atau nilai dari guru.
g. Dalam pendekatan kontekstual (CTL), pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, oleh sebab itu setiap siswa bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pendekatan konvensional (Non-CTL), hal ini mungkin terjadi. Kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.
h. Dalam pendekatan kontekstual (CTL), siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing. Sedangkan dalam pendekatan konvensional (Non-CTL) guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
i. Dalam pendekatan kontekstual (CTL), pembelajaran bisa terjadi dimana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan, sedangkan dalam pendekatan konvensional pembelajaran hanya terjadi didalam kelas.
j. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa, maka dalam pendekatan kontekstual (CTL) keberhasilam pembelajaran diukur dengan berbagai cara misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya. Sedangkan dalam pendekatan konvensional (Non-CTL) keberhasilan pembelajaran biasanya hanya diukur dari tes. (Nurhadi, 2002: 7-9)
Dari uraian di atas, bahwa pendekatan kontekstual (CTL siswa dituntut untuk selalu berperan aktif dalam proses pembelajaran dengan cara menemukan dan mengali sendiri materi pelajaran yang diberikan. Sehingga siswa tidak terngantung kepada guru saja, tetapi bisa menemukan sendiri makna dari materi tersebut.
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ialah dengan cara melalui perbaikan proses belajar mengajar. Berbagai konsep dan wawasan baru tentang proses belajar mengajar di sekolah telah muncul dan berkembang seiring pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Guru sebagai personil yang menduduki posisi strategis dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, dituntut untuk terus mengikuti perkembangan konsep-konsep baru dalam dunia kepengajaran tersebut. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang tepat didalam mata pembelajaran Ijtima'i, karena dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata serta membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. (Nurhadi, 2002: 1)
Pendekatan konstektual sangat dibutuhkan dalam pembelajaran Ijtima'i, di sekolah agar pengetahuan yang dimiliki siswa tidak hanya bersifat kognitif (pengetahuan) tetapi juga mencapai ranah afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan). Di samping itu, pendekatan konstektual hendaknya mampu membentuk sifat toleran dan inklusif pada siswa. Sikap-sikap tersebut mendukung terlaksanya pembelajaran nilai-nilai dalam kehidupan bersama. Adapun untuk meningkatkan nilai prestasi belajar siswa terlebih dahulu guru harus melihat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, pengatahuan yang dimiliki siswa dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah.
Semua itu sangat penting bagi guru untuk melihat perkembangan siswa selama proses belajar mengajar terjadi. Dan selain itu, dalam melakukan penilain hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi belajar siswa, antara lain: proyek/kegiatan, PR (Pekerjaan Rumah), kuis, karya siswa, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis, karya tulis. (Nurhadi, 2002: 20). Dengan pendekatan konstektual diharapkan nilai prestasi belajar siswa pada mata pembelajaran Ijtima'i dapat meningkat secara optimal sehingga proses belajar mengajar lebih efektif dan efisien, disini peneliti mencoba meneliti seberapa besar pengaruh penggunaan pendekatan konstektual (CTL) dalam meningkatkan nilai prestasi belajar siswa pada pembelajaran Ijtima'i.
C. KESIMPULAN
Pendekatan kontekstual adalah suatu strategi pembelajaran dengan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran secara penuh dapat menemukan materi pelajaran dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata yang dihadapi peserta didik sehingga mendorong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari.
Proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dilakukan secara mandiri atas bimbingan penuh guru dan teman-temannya dengan berbagai aktivitas secara mandiri secara individual maupun kelompok, misalnya bertanya, bertindak, mencari penyelesaian masalah, membuat dugaan dan mengambil kesimpulan. Peran guru memberikan bimbingan, memotivasi siswa dan memberikan dukungan kepada siswa dan ikut membantu siswa dalam pemecahan masalah jika dalam proses pembelajaran menemukan kesulitan. Untuk itu diperlukan kemampuan dan kreativitas guru dalam membangkitkan kemampuan berpikir verbal dan kemampuan berpikir abstrak siswa untuk mempelajari mata pelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i)agar hasil belajar dapat optimal.
Pada pembelajaran pengetahuan sosial (ijtima'i) penerapan pendekatan kontekstual sangatlah tepat dikarenakan materi yang dipelajari dalam pembelajaran ijtima'i semuanya berhubungan dengan kehidupan peserta didik itu sendiri. Di samping itu juga materi pembelajarannya semua berada disekitar siswa itu sendiri, dengan sendirinya siswa akan lebih mudah mudah menemukan bahan pembelajaran dengan pendekatan ijtima'i tersebut.
Selanjutnya pendekatan kontekstual itu akan membawa perubahan besar terhadap prestasi belajar anak di sekolah, dikarena siswa lebih banyak dilibatkan dalam proses menkontruksikan sendiri materi pembelajaran itu.
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Sudibyo, Materi Sosialisasi Dan Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: Depdiknas, 2007
Depdiknas, Pedoman Pengembangan Kecakapan Hidup di SMA, Jakarta: Depdiknas, 2002
Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning, (Bandung: Mizan Learning Center, 2007
Joyce, Bruce,Marsha Weil, & Emily Calhoun, Models of Teaching, 6th Ed. Boston: Allyn and Bacon, 2000
Mustaqim. Abdul Wahid, Psikologi Pendidikan. (Jakarta: Rineka Cipta, 2003
Nurhadi, Pendekatan Kontekstual (Kontextual Teaching and Learning (CTL)), (Malang: Universitas Negeri Malang
Suparto, Penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, Semarang: Depdiknas, 2004
Tri Kurnia Nurhayati, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Cet.2, (Jakarta: Eska Media, 2003
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Cet. 5, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008